oleh: Abdullah Alawi
“Anda dari mana?”
“Dari Indonesia.”
“Oh.. Soekarno!”
“Iya.”
“Dia bukan hanya pemimpin Indonesia, tapi juga Afrika.”
Percakapan itu terjadi antara seorang supir taksi dengan sastrawan Asrul Sani di Afrika. Saya membaca kisahnya di majalah Horison, entah edisi berapa.
“Kita sama-sama dipimpin Soekarno. Jadi, kita saudara jauh. Sekalinya bertemu, masak harus bayar?”
***

